1 Dari 3 Bayi Kembar Meninggal, Orangtua Mengaku Kesal Dengan RSUD Ruteng

Ruteng, Indonesianway.com – Vinsensius Jeradu (28) dan Evita Mamu (26), pasangan suami isteri asal Kampung Rahong, Desa Bea Rahong, Kecamatan Rahong Utara, Manggararai, Nusa Tenggara Timur (NTT) mengaku kesal dengan pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ruteng, setelah 1 dari 3 anak kembar mereka yang lahir sebulan lalu meninggal.

Ketika ditemui di kediaman mereka, Kamis (18/4/2013), Vita mengisahkan, dirinya menduga kematian anaknya itu, Sabtu (30/3/2013) lalu, akibat kebijakan pihak RSUD Ruteng yang menyuruhnya cepat-cepat pulang pasca menjalani operasi caesar. Padahal, menurut dia, kala itu, kondisi ketiga anaknya itu belum stabil.

Vinsen dan Vita -  keduanya sama-sama sebagai petani – memberi nama Jeli kepada bayi perempuan dengan berat badan 1,2 kg, Juan untuk bayi putra dengan berat badan 1,9 kg, dan Jein untuk bayi putri dengan  berat badan 1,6 kg.

Jeli meninggal

Naas menimpa pada Jumat (29/3/2013), ketika Jeli diserang batuk dan sesak napas, serta badannya serentak menjadi kebiru-biruan. Bayi mungil yang tidak sempat diantar ke rumah sakit itu pun, meninggal sehari setelahnya.

Vita menuturkan, kematian bayinya, salah satu disebabkan oleh kebijakan dari RSUD Ruteng yang cepat-cepat meminta mereka pulang  dua hari setelah operasi.

Vita menjalani operasi pada Sabtu (9/3/2013) dan disuruh pulang oleh pihak RSUD dua hari setelahnya.

Menurut dia, pihak RSUD Ruteng meyakinkan dia dan suami bawa kondisi ketiga bayi mereka sehat, walaupun sang ibu belum pulih dari rasa sakit pasca operasi. “Kami kaget karena dua hari baru operasi, kami disuruh pulang sama dokter”, katanya.

“Kami pun tidak bisa berbuat apa apa, meskipun rasa sakit menyiksa. Kami hanya diberi susu SGM 1 serta resep obat Amoxcilin. Bersama suami, kami pulang ke rumah di Rahong”.

Keluarga ini tinggal di rumah yang sederhana, berukuran 4 x  4 meter, berlantai tanah dengan bilik bambu dan atap sink, serasa sesak dengan bertambahnya kehadiran 3 buah hati yang baru lahir. Putera pertama mereka baru berusia 6 tahun, yang kedua 3 tahun. Kondisi ekonomi yang sulit memaksa ia merawat ketiga anaknya dengan pasokan makanan seadanya.

Duka belum berakhir

Pasca putri mereka Jeli meninggal, duka belum berhenti melanda, kedua bayi lain selalu sesak napas dan batuk-batuk. Tidak hanya itu, ketika mengantar bayi mereka ke RSUD Ruteng, mereka disambut dengan amarah.

“Kami mendapat marah dari para perawat, karena dianggap tidak berhasil merawat bayi kami. Kami hanya diam saat mereka omel. Meskipun dari hati, kami merasa sakit atas perginya Jeli”, jelas Vita.

Kedua bayipun mendapat perawatan selama semingu, dan setelah keadaan membaik, pihak RSUD membolehkan mereka pulang.

Keadaan demikian, menimbulkan rasa duka dan marah dari kakek bayi. Namun sebagai rakyat jelata, kata dia, ia hanya pasrah pada situasi ini. “Sebetulnya saya tidak tega, atas kepergian kembar yang pertama. Ya, itulah kehendak Tuhan, kami pasrah saja. Meskipun kami agak kesal, karena anak kami setelah dua hari baru dioperasi, kok langsung disuruh pulang. Apalah daya, kami hanya rakyat petani yang tidak bias berbuat apa apa”, ungkap  Nikolaus Rarut, kakek korban.

Pihak RSUD membantah

Saat dikonfirmasi terkait hal ini, Jumat (19/4/2013), Direktur RSUD Ruteng Dr. Dupe Nababan mengatakan pihaknya sudah menangani secara profesional, juga pihaknya membantah jika menyuruh pulang paksa Vita sekeluarga.

“Setelah melihat kondisi bayi sehat, kami menyarankan agar pulang rawat di rumah. Karena  rumah sakit mempunyai aturan jelas, mengingat banyaknya pasien yang mau melahirkan. Kondisi bayi semuanya sehat, makanya disuruh pulang”, katanya.

Ia menjelaskan, pihaknya juga sudah melatih ibu bayi untuk menerapkan metode kanguru atau mendekapkan bayi.

“Karena dengan cara begitu kehangatan tubuh kita memberikan kenyamanan pada bayi tersebut. Nah, setelah kami tanya, padahal sang ibu tidak menerapkan metode tersebut” ungkap Dupe.

Pihaknya juga membantah, jika berat bayi yang meninggal 1,2 Kg. “Jika berat bayi demikian, kami tidak mungkin menyarankan pulang, karena berat demikian tidak normal dan membutuhkan perawatan intensif”. (Ferdinand Ambo/RL)

Subscribe

Untuk mendapat informasi/artikel terbaru kami, Anda dapat berlangganan secara gratis melalui email. Ketik email Anda, kemudian klik link konfirmasi yang kami kirimkan.

No Responses

Leave a Reply