Terkait Tragedi Lela, Gereja Diminta Tidak Bisu

Jakarta, Indonesianway.com – Gereja Katolik didesak untuk tidak bisu dalam menyikapi kasus pembunuhan tragis yang menimpa Merry Grace dan dua bayi dalam kandungannya oleh mantan pastor Herman Jumat Masan (HJM) di Lela, Sikka, Nusa, Tenggara Timur (NTT), lebih dari 10 tahun lalu. Gereja harus bertanggung jawab dengan berperan aktif dalam proses penuntasan kasus ini.

Demikian inti dari petisi sejumlah organisasi kemanusiaan yang dikeluarkan di Jakarta, Minggu (24/2/2013). Petisi ini ditandatangani oleh Vivat Internasional, Pelayanan Advokasi untuk Keadilan dan Perdamaian (Padma), Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) dan sejumlah organisasi lain.

“Kami mendesak institusi Gereja Katolik di Flores mendorong semua pihak agar membantu penyelesaian masalah ini. Kami juga mendesak institusi Gereja Katolik, agar segera meminta maaf pada korban, umat seluruhnya dan khususnya keluarga korban. Kasus yang terjadi sungguh bertentangan dengan nilai kemanusiaan. Kami berpendapat ini merupakan tindakan kriminal yang terencana ”, bunyi petisi ini.

Petisi ini merupakan kesimpulan dari diskusi bersama tentang tragedi Lela dengan narasumber utama Pastor Peter Payong SVD, paman Merry Grace. Petisi ini  akan dikirimkan kepada 4 Uskup di Flores, Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), juga sejumlah lembaga pemerintahan seperti Komnas HAM, Polri, termasuk media.

“Saya tidak tahu, apakah akan ada sikap resmi dari pihak Keuskupan Larantuka. Tapi, yang jelas saya berharap, dalam waktu dekat gereja segera bersuara, misalnya dengan menyatakan dukungan penuh atas penuntasan kasus ini”, kata Pastor Peter Payong SVD.

Agustinus Payong Dosi, kuasa hukum keluarga korban mengatakan, pihaknya berharap pelaku dihukum maksimal sesuai dengan pasal yang dilanggarnya. “Kami memang belum merasa puas sebelum mengetahui hukuman yang akan diberikan kepada pelaku. Apa yang telah dilakukan oleh pelaku tidak hanya mencederai kemanusiaan, tetapi juga merusak Gereja,” ungkapnya.

Tragedi pembunuhan Lela muncul ke ruang publik bersamaan dengan ditemukannya kerangka seorang perempuan bersama 2 anak kecil di kompleks Tahun Orientasi Rohani (TOR) Lela, Maumere, Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) akhir Januari lalu. Kerangka itu ditemukan saat dilakukan penggalian oleh kepolisian berdasarkan sejumlah laporan.

Sejumlah kesaksian dan barang bukti menunjukkan kerangka itu milik Merry Grace, seorang mantan suster, yang menghilang sekitar lebih dari 10 tahun yang lalu. Dia dibunuh oleh Herman Jumat Masan (HJM) karena tidak setuju dengan usulan menggugurkan kandungan hasil hubungan gelap mereka. Kala itu HJM bertugas sebagai pendamping calon imam projo di TOR Lela.

Pelaku pembunuhan, HJM, sudah ditahan polisi di Maumere beberapa pekan lalu. Menurut pengakuan Herman, Merry Grace dan anaknya meninggal di kamar HJM saat melahirkan pada 2002 lalu. Anak tersebut merupakan hasil hubungan gelap mereka. Bersama bayinya itu, Merry Grace dikubur di dekat kamar HJM. pada malam hari ketika penghuni seminari sedang tidak ada di tempat.

Sebelumnya, pada 1999, Merry Grace melahirkan anak pertama, juga hasil hubungan gelapnya dengan HJM, tapi kemudian meninggal karena mulutnya ditutup oleh HJM. Saat kedua kejadian ini berlangsung, HJM masih berstatus sebagai imam projo Keuskupan Larantuka dan Merry Grace sudah berstatus sebagai mantan suster SSpS. Ia meninggalkan biara pada 1997. (HK)

Sumber: Ucanews.com

Subscribe

Untuk mendapat informasi/artikel terbaru kami, Anda dapat berlangganan secara gratis melalui email. Ketik email Anda, kemudian klik link konfirmasi yang kami kirimkan.

No Responses

Leave a Reply