Sektor Migas Masih Jadi Sumber Penerimaan Negara

Jakarta, Indonesianway.com – Sektor migas hingga saat ini masih menjadi salah satu sumber penerimaan negara. Sekitar Rp 360 triliun tiap tahunnya, penerimaan negara  berasal dari migas.

Dulu, cadangan migas banyak ditemukan di Indonesia bagian Barat. Sekarang ini, Pemerintah juga mendorong pengembangan migas di Indonesia bagian Timur. Tercatat mulai 2006 hingga 2012, ditemukan 27 sumur migas.

Dirjen Migas Kementerian ESDM A. Edy Hermantoro dalam diskusi mengenai migas di Hotel Gran Melia, Selasa (5/2/2013), mengemukakan, pada tahun 2006 berhasil ditemukan 3 sumur migas. Pada 2007 dan 2008, masing-masing ditemukan 6 sumur migas.

Tahun 2009, hanya ditemukan 1 sumur migas. Sedangkan pada 2010 dan 2011, masing-masing ditemukan 3 sumur migas. Sementara pada 2012, ditemukan 5 sumur migas, terdiri dari 4 sumur gas dan 1 sumur migas.

Untuk pengembangan migas ini, lanjut Edy, membutuhkan biaya yang sangat besar yaitu sekitar US$ 100 juta per sumur. Padahal pada tahap eksplorasi, resiko dan biaya ditanggung kontraktor (KKKS).

Biaya tidak akan dikembalikan jika dry hole (tidak ditemukan migas) atau migas yang ditemukan tidak ekonomis untuk dikembangkan. Pemerintah baru akan mengganti kalau suatu lapangan sudah berproduksi.

Berdasarkan catatan Ditjen Migas, pada tahun 1998-2007 terdapat 57 KKKS diterminasi tanpa melewati masa produksi. Biaya yang telah dikeluarkan KKKS totalnya mencapai US$ 1,38 miliar atau sekitar Rp 12,4 triliun. Hampir sebanding dengan anggaran konversi minyak tanah ke LPG tahun 2007 hingga 2011.

”Ini menggambarkan bahwa untuk eksplorasi, biaya yang dibutuhkan sangat besar,” ujarnya. (FD)

Subscribe

Untuk mendapat informasi/artikel terbaru kami, Anda dapat berlangganan secara gratis melalui email. Ketik email Anda, kemudian klik link konfirmasi yang kami kirimkan.

No Responses

Leave a Reply