Tanggung Jawab Sosial Siswa

Maksimus Adil*

Seorang ibu yang telah memasuki usia pensiun terheran-heran melihat sejumlah besar anak sekolah yang mengenakan pakaian olahraga sekoahnya dengan tekun memungut sampah-sampah yang berserakan di sekitar Pantai Indah dan Beach Pool Ancol. Dia yang sedang menikmati udara Ancol pagi itu bersama cucunya tidak kuasa untuk mencari tahu siapa anak-anak ini dan mengapa mereka melakukan kegiatan itu. Lalu dia dikenalkan dengan seorang guru yang menjadi salah seorang pendamping dari anak-anak itu, dan kepada guru itu dia menyampaikan keheranan sekaligus kekagumannya. Kegiatan ini sangat bermanfaat dan mendidik, kata dia. “Saya salut dan saya yakin anak-anak ini, bila dibiasakan untuk melakukan ini, akan menjadi anak-anak yang berkarakter baik,” sambungnya.

Peristiwa itu terjadi pada Sabtu 15 September 2012. Hari itu, lebih dari 100 orang siswa SD dan SMP dari sebuah sekolah swasta di BSD (Bumi Serpong Damai) melaksanakan sebuah kegiatan pelayanan masyarakat (service learning) di Pantai Ancol. Kegiatan pelayanan masyrakat kali ini lebih difokuskan pada membersihkan sampah-sampah yang berserakan di Pantai Ancol. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka ikut berpartisipasi dalam program yang dilaksanakan secara global, Clean-up Earth Day.

Kegiatan pelayanan masyarakat oleh siswa merupakan bagian integral dari kurikulum pendidikan di sekolah. Kegiatan ini sangat bermanfaat untuk menanamkan kesadaran kepada para siswa bahwa mereka adalah bagian dari masyrakat, bagian dari lingkungan, dan karena itu mereka ikut bertanggung jawab terhadap lingkungannya. Hal itu perlu dilakukan agar dalam diri siswa timbul suatu kepedulian sosial.

Kepedulian sosial adalah tanggung jawab sosial. Wikipedia mendefinisikan tanggung jawab sosial (social responsibility) sebagai suatu teori atau ideologi etis yang menekankan bahwa suatu entitas, baik itu individu maupun organisasi mempunyai kewajiban untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat yang lebih luas. Tanggung jawab sosial merupakan tugas yang harus dilaksanakan oleh  individu atau organisasi untuk menata (maintain) keseimbangan antara ekonomi dan ekosistem (http://en.wikipedia.org/wiki/Social_responsibility).

Tanggung jawab sosial bersifat multidimensional, dalam arti bahwa tanggung jawab tidak sekedar menghormati orang lain; tanggung jawab berarti mengalami, juga menghargai kesaling-tergantungan dan terhubungan dengan orang lain dan lingkungan (Berman, 1993).

Perlu Dibiasakan
Sebagai makhluk individu sekaligus sosial, manusia sejak dini perlu dibiasakan untuk bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan lingkungannya (orang-orang dan alam sekitarnya).  Untuk itu, di sekolah, siswa secara sistematis dan terencana dikondisikan dan dibiasakan agar dirinya sadar akan dirinya dan konsekuensi dari tindakan dan tutur-katanya. Karena itu, maka tanggung jawab sosial siswa dapat diartikan sebagai tanggung jawab tiap siswa atas tindakan-tindakan yang diambilnya. Hal itu secara moral melekat pada setiap individu agar dia bertindak sedemikian rupa agar orang lain tidak terkena dampak (buruk) dari tindakannya.

Kegiatan pelayanan masyarakat di sekolah sering dikenal dengan istilah service learning atau community work. Service learning harus dirancang sedemikian rupa agar bermanfaat bagi para siswa sendiri. Dikondisikan agar para siswa (bukan guru) adalah penanggung jawab utama dari terlaksananya service learning, sebab service learning merupakan salah satu bentuk perwujudan tanggung jawab sosial siswa terhadap lingkungannya.

Ada banyak manfaat dari service learning untuk siswa, sekolah, dan masyarakat. Kita bisa menyebut di antaranya, pertama, untuk memperkuat keterampilan kepemimpinan pada diri siswa. Memiliki kesempatan untuk benar-benar merencanakan dan melaksanakan sebuah proyek yang melibatkan orang-orang lainnya dari sekolah merupakan salah satu cara terbaik untuk berlatih keterampilan kepemimpinan dalam diri siswa. Kedua, menyapa kebutuhan ril masyarakat. Siswa perlu disadarkan bahwa komunitas mereka membutuhkan mereka. Dengan melakukan suatu tindakan kecil, mereka telah membantu memulai langkah-langkah yang diperlukan untuk membuat sekolah dan masyarakat di sekitarnya menjadi tempat yang lebih baik untuk semua orang. Ketiga, menumbuhkan rasa berguna di dalam diri para siswa. Dengan melakukan sesuatu bagi masyarakat sekitarnya, dalam diri para siswa akan tumbuh rasa bangga dan mereka akan melihat diri dan kehadirannya berguna bagi orang lain.

Keempat, menjalain persahabatan dengan orang-orang baru. Dengan melakukan sesuatu bagi dan bersama orang lain, terbuka kesempatan bagi siswa untuk mengenal orang-orang baru dan menjalin persaabatan dengan mereka. Kelima, untuk menemukan minat karir di masa depan. Dengan dibiasakan untuk melakukan keiatan pelayanan masyarakat, siswa dikondisikan untuk menemukan minat atau kesempatan karir yang cocok buat mereka sendiri. Sebab dengan melakukan service learning siswa mengenal berbagai jenis pekerjaan dan mereka bisa menentukan jenis pekerjaan yang bisa mereka nikmati. Itu bisa membantu mereka untuk menentukan pilihan pendidikan dan karir di kemudian hari.

Keenam, meningkatkan hubungan antara sekolah dan masyarakat. Kondisis ril kita sekarang adalah maraknya tawuran siswa. Dengan mengkondisikan siswa untuk terlibat dalam usaha menjawab kebutuhan ril komunitas di sekitarnya, masyarakat dan sekolah akan saling menjalin hubungan yang baik dan positif. Ketujuh, mengembangkan keterampilan dan pengetahuan. Service learning merupakan kesempatan  yang sangat baik untuk membuat proses belajar lebih bermakna bagi siswa.

Banyaknya tindakan destruktif yang dilakukan oleh pelajar dan mahasiswa saat ini seringkali disebabkan oleh rendahanya kesadaran akan tanggung jawab social dalam diri siswa. Aspek pelayanan kepada masyarakat dalam tridarma perguruan tinggi seringkali hanya dimaknai sebagai mendedikasikan hasil penelitian oleh dosen dan mahasiswa bagi masyarakat. Padahal ada sangat banyak peluang yang bisa diciptakan agar pelajar dan mahasiswa bisa mengabdi kepada masyarakat dan melakukan sesuatu yang berguna bagi lingkungannya.

Sudah saatnya agar setiap sekolah mulai dari level TK hingga perguruan tinggi memberi ruang bagi terlaksananya service learning oleh siswa dan mahasiswanya. Dengan itu, potensi destruktif dalam diri pelajar dan mahasiswa tersalurkan dalam bentuk kegiatan-kegiatan positif. Itulah wujud tanggung jawab sosial siswa, yakni ketika mereka dapat membuat diri mereka berguna bagi diri mereka sendiri, alamamaternya serta masyarakat luas di sekitarnya.

Penulis adalah pengajar di “Jakarta Nanyang School” BSD.

Subscribe

Untuk mendapat informasi/artikel terbaru kami, Anda dapat berlangganan secara gratis melalui email. Ketik email Anda, kemudian klik link konfirmasi yang kami kirimkan.

No Responses

Leave a Reply